
Lampung, 31 Juli 2025 – Para petani singkong di Provinsi Lampung kembali menghadapi dilema klasik: melimpahnya hasil panen di satu sisi, namun di sisi lain harga jual yang bergejolak dan cenderung rendah. Kondisi ini meresahkan ribuan petani yang menggantungkan hidupnya pada komoditas utama daerah ini, memicu kekhawatiran akan kerugian dan menurunnya kesejahteraan.
Dalam beberapa minggu terakhir, harga singkong di tingkat petani di berbagai sentra produksi seperti Lampung Tengah, Lampung Utara, dan Lampung Timur dilaporkan merosot. Dari yang semula sempat menyentuh angka Rp 1.500 – Rp 1.800 per kilogram di awal musim, kini harga terpantau hanya berkisar Rp 800 hingga Rp 1.200 per kilogram. Angka ini jauh di bawah harapan petani dan bahkan mendekati biaya produksi.
Panen Raya dan Tekanan Pasar
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di salah satu desa di Lampung Tengah, Bapak Supardi, mengungkapkan keprihatinannya. “Kami sedang panen raya. Hasilnya bagus, tapi harganya ini yang bikin pusing. Kalau harganya segini, kami tekor. Ongkos tanam, pupuk, upah buruh, semua sudah naik,” keluhnya.
Musim panen yang bersamaan di berbagai daerah produsen singkong di Lampung diyakini menjadi salah satu faktor utama penyebab jatuhnya harga. Pasokan yang melimpah di pasar seringkali tidak diimbangi dengan daya serap industri pengolahan singkong (tapioka) yang optimal. Beberapa pabrik juga dikabarkan menurunkan harga pembelian atau membatasi kuota karena kapasitas penyimpanan atau permintaan pasar olahan yang belum meningkat signifikan.
Ketergantungan pada Industri dan Kualitas
Lampung dikenal sebagai salah satu produsen singkong terbesar di Indonesia, dengan sebagian besar produksinya diserap oleh industri tapioka. Ketergantungan yang tinggi pada segmen industri ini membuat harga singkong sangat rentan terhadap dinamika permintaan dan penawaran dari pabrik.
Selain itu, isu kualitas singkong juga kerap menjadi alasan penentuan harga. Petani sering dihadapkan pada potongan harga (sortasi) yang tinggi jika singkong yang mereka jual dinilai memiliki kadar pati yang rendah atau kerusakan lainnya. Hal ini menambah beban kerugian bagi petani.
Harapan dan Solusi Jangka Panjang
Para petani berharap ada intervensi dari pemerintah daerah maupun pusat untuk menstabilkan harga singkong. Beberapa opsi yang sering disuarakan antara lain:
- Peningkatan kapasitas serap industri: Mendorong pabrik tapioka untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pembelian.
- Diversifikasi produk olahan: Mendorong pengembangan produk olahan singkong selain tapioka, seperti tepung mokaf, singkong beku, atau produk makanan ringan, untuk menciptakan nilai tambah dan pasar baru.
- Penguatan kelembagaan petani: Memperkuat koperasi atau kelompok tani agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi harga.
- Informasi harga yang transparan: Memastikan petani mendapatkan informasi harga yang akurat dan terkini.
Tanpa adanya solusi komprehensif, fluktuasi harga singkong yang terus-menerus dikhawatirkan akan mengikis semangat petani untuk terus menanam komoditas ini, padahal singkong adalah salah satu penopang ekonomi Lampung dan ketahanan pangan nasional.