Skip to content

Warta Ruang Publikasi

Portal Berita dan Publikasi Ilmiah

Primary Menu
  • About Us
  • Berita Populer
  • Jurnal Ilmiah
Beranda
  • Home
  • Ekonomi
  • Fluktuasi Harga Singkong Kembali Resahkan Petani Lampung: Antara Panen Melimpah dan Tekanan Industri
  • Ekonomi
  • Pertanian

Fluktuasi Harga Singkong Kembali Resahkan Petani Lampung: Antara Panen Melimpah dan Tekanan Industri

Fathia May 15, 2025

Lampung, 31 Juli 2025 – Para petani singkong di Provinsi Lampung kembali menghadapi dilema klasik: melimpahnya hasil panen di satu sisi, namun di sisi lain harga jual yang bergejolak dan cenderung rendah. Kondisi ini meresahkan ribuan petani yang menggantungkan hidupnya pada komoditas utama daerah ini, memicu kekhawatiran akan kerugian dan menurunnya kesejahteraan.

Dalam beberapa minggu terakhir, harga singkong di tingkat petani di berbagai sentra produksi seperti Lampung Tengah, Lampung Utara, dan Lampung Timur dilaporkan merosot. Dari yang semula sempat menyentuh angka Rp 1.500 – Rp 1.800 per kilogram di awal musim, kini harga terpantau hanya berkisar Rp 800 hingga Rp 1.200 per kilogram. Angka ini jauh di bawah harapan petani dan bahkan mendekati biaya produksi.

Panen Raya dan Tekanan Pasar

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di salah satu desa di Lampung Tengah, Bapak Supardi, mengungkapkan keprihatinannya. “Kami sedang panen raya. Hasilnya bagus, tapi harganya ini yang bikin pusing. Kalau harganya segini, kami tekor. Ongkos tanam, pupuk, upah buruh, semua sudah naik,” keluhnya.

Musim panen yang bersamaan di berbagai daerah produsen singkong di Lampung diyakini menjadi salah satu faktor utama penyebab jatuhnya harga. Pasokan yang melimpah di pasar seringkali tidak diimbangi dengan daya serap industri pengolahan singkong (tapioka) yang optimal. Beberapa pabrik juga dikabarkan menurunkan harga pembelian atau membatasi kuota karena kapasitas penyimpanan atau permintaan pasar olahan yang belum meningkat signifikan.

Ketergantungan pada Industri dan Kualitas

Lampung dikenal sebagai salah satu produsen singkong terbesar di Indonesia, dengan sebagian besar produksinya diserap oleh industri tapioka. Ketergantungan yang tinggi pada segmen industri ini membuat harga singkong sangat rentan terhadap dinamika permintaan dan penawaran dari pabrik.

Selain itu, isu kualitas singkong juga kerap menjadi alasan penentuan harga. Petani sering dihadapkan pada potongan harga (sortasi) yang tinggi jika singkong yang mereka jual dinilai memiliki kadar pati yang rendah atau kerusakan lainnya. Hal ini menambah beban kerugian bagi petani.

Harapan dan Solusi Jangka Panjang

Para petani berharap ada intervensi dari pemerintah daerah maupun pusat untuk menstabilkan harga singkong. Beberapa opsi yang sering disuarakan antara lain:

  • Peningkatan kapasitas serap industri: Mendorong pabrik tapioka untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pembelian.
  • Diversifikasi produk olahan: Mendorong pengembangan produk olahan singkong selain tapioka, seperti tepung mokaf, singkong beku, atau produk makanan ringan, untuk menciptakan nilai tambah dan pasar baru.
  • Penguatan kelembagaan petani: Memperkuat koperasi atau kelompok tani agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi harga.
  • Informasi harga yang transparan: Memastikan petani mendapatkan informasi harga yang akurat dan terkini.

Tanpa adanya solusi komprehensif, fluktuasi harga singkong yang terus-menerus dikhawatirkan akan mengikis semangat petani untuk terus menanam komoditas ini, padahal singkong adalah salah satu penopang ekonomi Lampung dan ketahanan pangan nasional.

About the Author

Fathia

Editor

View All Posts

Continue Reading

Previous: Revolusi Pembelajaran: Pendidikan Tinggi Indonesia Bersiap Sambut Era Deep Learning
Next: Jangan Tunggu Haus, Inilah Beberapa Manfaat Ajaib Air Putih bagi Tubuh Anda

Related Stories

batu
  • Pertanian
  • Sejarah

Bendungan Batu Tegi Tetap Andalan Irigasi dan Potensi Wisata Lampung

rohmani July 31, 2025
image
  • Ekonomi
  • Makanan
  • Sosial

APJI Kota Metro Perkuat Warisan Kuliner Lewat Demo Masak Kue Tradisional

rohmani July 30, 2025
Palm Plantation Pathway
  • Blog
  • Pertanian

Inovasi Pertanian Way Kanan: Petani Sawit Sukses Kembangkan Agrowisata dan Pengolahan Limbah!

Putri October 11, 2024

Terbaru

  • FENOMENA TOXIC PARENTING DALAM DUNIA PENDIDIKAN :  KETIKA ORANGTUA TERLALU IKUT CAMPUR TANGAN
  • Dinamika Kehidupan Kelas dan Pembentukan Karakter Siswa: Perspektif Sosiologi dan Antropologi Pendidikan
  • Rayakan Hari Pahlawan, Asistensi Mengajar UMKO Gelar Lomba Kreatif untuk Tanamkan Jiwa Patriotisme Siswa di MIN 2 Lampung Utara
  • Gotong Royong Mahasiswa dan Guru Warnai Perayaan Hari Guru Nasional 2025 di MIN 3 Lampung Utara
  • Pendidikan Indonesia di Persimpangan Jalan: Analisis Sosiologis Antara Harapan dan Kenyataan

Komentar Terbaru

No comments to show.

Arsip

  • 2025
  • 2024

Kategori

Populer

WhatsApp Image 2025-12-16 at 12.37.50
  • Pendidikan

FENOMENA TOXIC PARENTING DALAM DUNIA PENDIDIKAN :  KETIKA ORANGTUA TERLALU IKUT CAMPUR TANGAN

Putri December 16, 2025
WhatsApp Image 2025-12-15 at 11.56.26
  • Pendidikan

Dinamika Kehidupan Kelas dan Pembentukan Karakter Siswa: Perspektif Sosiologi dan Antropologi Pendidikan

Putri December 15, 2025
WhatsApp Image 2025-12-14 at 11.21.13
  • Blog
  • Pendidikan

Rayakan Hari Pahlawan, Asistensi Mengajar UMKO Gelar Lomba Kreatif untuk Tanamkan Jiwa Patriotisme Siswa di MIN 2 Lampung Utara

Putri December 14, 2025
image
  • Blog

Gotong Royong Mahasiswa dan Guru Warnai Perayaan Hari Guru Nasional 2025 di MIN 3 Lampung Utara

Fathia December 10, 2025
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.