
Kotabumi, 25 Februari 2025 – Bagi siapa pun yang menyeberangi Selat Sunda dari Pulau Jawa, sebuah bangunan megah berwarna kuning keemasan yang berdiri kokoh di atas bukit adalah pemandangan pertama yang menyambut mereka di tanah Sumatra. Bangunan itu adalah Menara Siger, sebuah monumen yang bukan hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga mahkota kebanggaan yang sarat akan makna sejarah dan filosofi bagi masyarakat Lampung.
Meski tergolong bangunan modern, Menara Siger adalah representasi dari sejarah dan budaya Lampung yang telah mengakar sejak lama. Berdiri di titik nol Kilometer Sumatra di Bakauheni, Lampung Selatan, menara ini telah menjadi ikon yang tak terpisahkan dari identitas provinsi ini.
Arsitektur Penuh Makna Filosofis
Diresmikan pada 30 April 2008 oleh Gubernur Sjachroedin Z.P., desain menara ini terinspirasi dari bentuk “Siger”, yaitu mahkota adat yang dikenakan oleh pengantin perempuan dalam tradisi Lampung. Bentuk ini dipilih sebagai simbol penghormatan terhadap kemuliaan perempuan dan budaya lokal.
Setiap detail pada menara ini memiliki makna yang mendalam. Menara Siger memiliki sembilan pucuk atau kerucut yang melambangkan sembilan bahasa asli yang ada di Lampung. Ini merepresentasikan persatuan dari berbagai Marga
atau klan masyarakat adat Lampung. Warna kuning keemasan dan merah yang mendominasi bangunan merupakan warna khas yang melambangkan keagungan dan keberanian dalam adat Lampung.
Di dalam bangunan ini, pengunjung juga dapat menemukan berbagai informasi tentang sejarah dan budaya Lampung, serta Prasasti Kayu Are yang menandai titik nol Pulau Sumatra.
Gerbang Sumatra dan Destinasi Wisata
Posisinya yang sangat strategis menjadikan Menara Siger lebih dari sekadar monumen. Ia berfungsi sebagai “gerbang” yang menyapa jutaan orang yang datang dan pergi dari Sumatra. Bagi para pelancong, menara ini menjadi tempat peristirahatan favorit setelah menempuh perjalanan laut. Dari pelatarannya, pengunjung dapat menikmati pemandangan spektakuler Selat Sunda dan lalu-lalang kapal feri yang menghubungkan dua pulau besar di Indonesia.
“Menara Siger ini bukan sekadar bangunan. Ini adalah wajah pertama Lampung yang kami lihat. Rasanya belum lengkap ke Sumatra kalau belum berfoto di sini,” ujar seorang pengunjung yang sedang beristirahat di area monumen.
Tantangan Pelestarian
Sebagai sebuah bangunan bersejarah modern dan aset pariwisata utama, Menara Siger tentu menghadapi tantangan dalam hal perawatan dan pemeliharaan. Upaya berkelanjutan dari pemerintah dan kesadaran dari pengunjung sangat diperlukan untuk memastikan ikon kebanggaan ini tetap terawat dengan baik dan terus dapat dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.
Pada akhirnya, Menara Siger adalah penegasan identitas. Ia adalah sebuah mahkota fisik yang diletakkan di gerbang pulau, sebuah pengingat abadi akan kekayaan budaya dan sejarah Provinsi Lampung yang menyambut dunia dengan tangan terbuka.