
Bandar Lampung, 07 Juli 2024 – Provinsi Lampung, yang dikenal sebagai Gerbang Sumatera, menyimpan kekayaan budaya dan sejarah yang mendalam, terukir dari zaman prasejarah hingga era modern. Dari jejak-jejak peradaban kuno hingga semaraknya festival budaya masa kini, Lampung terus memancarkan identitasnya yang unik dan beragam.
Jejak Sejarah dan Peradaban Awal
Sejarah budaya Lampung telah ada jauh sebelum era modern. Bukti-bukti arkeologi menunjukkan keberadaan peradaban awal di wilayah ini, salah satunya melalui penemuan situs-situs megalitik di dataran tinggi Sekala Brak, Lampung Barat. Batu-batu menhir, dolmen, dan punden berundak menjadi saksi bisu kepercayaan animisme dan dinamisme masyarakat lampau, yang mengukir jejak spiritualitas di tanah Lampung.
Masuknya pengaruh Hindu-Buddha dan kemudian Islam juga memberikan corak tersendiri pada kebudayaan Lampung. Meskipun tidak sekuat kerajaan-kerajaan besar di Jawa atau Sumatera bagian utara, Lampung memiliki kerajaan-kerajaan kecil atau kebandaran yang berpusat pada marga-marga, seperti Paksi Pak Sekala Brak, yang masih eksis hingga kini dan menjadi penjaga tradisi adat Lampung.
Adat dan Bahasa: Jati Diri Masyarakat Lampung
Salah satu pilar utama budaya Lampung adalah adat dan bahasa. Masyarakat Lampung secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok adat utama:
- Lampung Pepadun: Umumnya mendiami wilayah pedalaman, dikenal dengan sistem kekerabatan patrilineal dan upacara adat yang megah, salah satunya “Cakak Pepadun” sebagai simbol kenaikan status sosial. Dialek bahasa mereka cenderung Api (A).
- Lampung Saibatin: Umumnya mendiami wilayah pesisir, dikenal dengan sistem kekerabatan bilateral dan kesetiaan pada garis keturunan tunggal (Sai Batin). Dialek bahasa mereka cenderung Nyo (O).
Meskipun berbeda dalam praktik adat dan dialek, kedua kelompok ini memiliki akar budaya yang sama dan kaya akan tradisi lisan, musik (seperti gamolan), tarian (tari Sigeh Pengunten), dan kerajinan tangan (kain tapis yang ikonik). Kain tapis, dengan sulaman benang emasnya, bukan hanya pakaian adat tetapi juga cerminan filosofi hidup dan keindahan Lampung.
Festival Krakatau: Jendela Budaya Lampung di Era Modern
Di era kontemporer, upaya pelestarian dan promosi budaya Lampung semakin gencar. Salah satu agenda terbesar yang menjadi magnet wisatawan adalah Festival Krakatau. Festival tahunan ini, yang biasanya diselenggarakan di sekitar bulan Agustus atau September, bukan hanya merayakan keindahan alam Gunung Krakatau yang legendaris, tetapi juga menjadi etalase megah bagi seluruh kekayaan budaya Lampung.
“Festival Krakatau adalah jembatan bagi kami untuk memperkenalkan keunikan budaya Lampung kepada dunia,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung dalam sebuah kesempatan. “Ini adalah perpaduan harmonis antara sejarah, seni pertunjukan, kuliner, dan kerajinan tangan yang menggambarkan semangat masyarakat Lampung.”
Melalui berbagai parade adat, pertunjukan seni tradisional, pameran UMKM, hingga ekspedisi ke Gunung Krakatau, festival ini berhasil menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. Kehadiran Festival Krakatau membuktikan bahwa budaya Lampung, yang berakar kuat pada sejarah dan tradisi, mampu beradaptasi dan terus relevan di tengah arus modernisasi.
Dengan perpaduan antara jejak sejarah yang kaya, praktik adat yang masih dipegang teguh, dan semangat inovasi dalam melestarikan budaya, Lampung terus melaju sebagai provinsi yang bangga akan identitas budayanya.