
Metro, 31 Desember 2024 – Sepanjang tahun 2024, Indonesia kembali diuji oleh serangkaian bencana alam yang beragam, menunjukkan kerentanan geografisnya sebagai negara yang terletak di cincin api Pasifik. Mulai dari gempa bumi yang merusak, letusan gunung berapi, hingga banjir bandang dan tanah longsor, setiap peristiwa menyisakan duka dan pelajaran berharga bagi mitigasi bencana di masa depan.
1. Gempa Bumi: Ancaman Tak Henti di Cincin Api
Tahun 2024 diawali dengan beberapa kejadian gempa bumi signifikan. Salah satu yang paling menonjol adalah gempa bumi berkekuatan M 6.5 di wilayah timur Indonesia pada awal tahun, yang menyebabkan kerusakan pada puluhan bangunan dan memicu peringatan tsunami singkat. Meskipun peringatan tsunami dicabut, trauma gempa susulan dirasakan oleh masyarakat setempat.
Kemudian, pada pertengahan tahun, gempa bumi tektonik dengan magnitudo M 6.0 mengguncang wilayah daratan di salah satu provinsi di Sumatera, menyebabkan retakan pada infrastruktur dan kepanikan warga. Beruntung, tidak ada korban jiwa serius yang dilaporkan, namun kerusakan fisik cukup meluas, memerlukan upaya rekonstruksi yang signifikan.
2. Letusan Gunung Berapi: Abu dan Ancaman Erupsi
Aktivitas gunung berapi juga menjadi sorotan. Gunung Ruang di Sulawesi Utara kembali menunjukkan peningkatan aktivitas di bulan April dan Mei, menyebabkan evakuasi ribuan warga dan gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik. Erupsinya yang eksplosif mengingatkan akan bahaya yang selalu mengintai di sekitar gunung api aktif.
Selain itu, Gunung Semeru di Jawa Timur juga beberapa kali mengalami guguran lava dan awan panas guguran (APG), meskipun dalam skala yang lebih kecil dibandingkan erupsi besar sebelumnya. Status siaga tetap diberlakukan, dan masyarakat di sekitar lereng terus diimbau untuk waspada dan mematuhi zona bahaya.
3. Banjir dan Tanah Longsor: Dampak Perubahan Iklim dan Tata Ruang
Musim hujan di tahun 2024, terutama pada periode awal dan akhir tahun, membawa serta bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Banjir bandang melanda beberapa kabupaten di Sumatra Barat pada bulan Maret, menyebabkan puluhan rumah hanyut, infrastruktur rusak parah, dan menelan korban jiwa. Kondisi topografi yang berbukit dan curah hujan ekstrem menjadi pemicu utama.
Tak hanya itu, sejumlah wilayah di Kalimantan dan Jawa juga mengalami banjir rob dan banjir kiriman akibat luapan sungai serta pasang air laut yang tinggi, diperparah dengan kondisi drainase yang belum optimal dan alih fungsi lahan di daerah hulu. Sementara itu, tanah longsor terjadi di beberapa titik di Jawa Barat dan Jawa Tengah, menimbun akses jalan dan merusak permukiman warga, seringkali dipicu oleh kondisi tanah yang labil dan deforestasi.
4. Upaya Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Menyikapi serangkaian bencana ini, pemerintah, BNPB, dan lembaga terkait terus mengintensifkan upaya mitigasi dan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat. Edukasi bencana, latihan evakuasi, dan pembangunan infrastruktur tahan bencana menjadi agenda prioritas. Teknologi peringatan dini juga terus dikembangkan untuk meminimalkan dampak dan korban jiwa.
Tahun 2024 menjadi pengingat yang kuat bahwa Indonesia hidup berdampingan dengan potensi bencana alam. Kolaborasi multi-pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, masyarakat, hingga sektor swasta, adalah kunci untuk membangun ketangguhan dan resiliensi bangsa dalam menghadapi ancaman alam di masa mendatang.
Semoga selalu dijauhkan dari mara bahaya
Aamiin…